Dewa Matahari di Perayaan Tahun Baru & Pandangan Islam
26 Desember 2013
25 Desember 2013
NATAL
Natal jelas bukan perayaan kaum Muslim,
dan kaum Muslim harusnya tidak berkepentingan dengan itu. Namun jelas
ada hubungannya dengan kaum Muslim mengingat sebagian besar daripada
kita juga berhubungan dengan sesama kita yang merayakannya. Karena itu
menjadi penting kiranya kita membahas bagaimana pandangan Islam tentang
Natal dan seputarnya serta toleransi kita di dalamnya.
Sebagaimana yang kita ketahui, 25
Desember bukanlah hari kelahiran Yesus Sang Mesias (Isa Al-Masih).
Walaupun gereja Katolik menganggapnya begitu.
Encyclopedia Britannica (1946),
menjelaskan, “Natal bukanlah upacara-upacara awal gereja. Yesus Kristus
atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab)
juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari
kepercayaan kafir penyembah berhala.”
Secara sains, dibuktikan tanggal 25
Desember adalah pertama kalinya matahari bergerak ke arah utara dan
memberikan kehangatan setelah matahari berada di titik terendah di
selatan pada 22-24 Desember (winter solstice) yang menyebabkan bumi berada di titik terdingin.
Karena itulah orang Yunani pada masa awal merayakan lahirnya Dewa Mithra pada 25 Desember, dan orang Latin merayakan hari yang sama sebagai kelahiran kembali Sol Invictus (Dewa Matahari pula)
Singkatnya, Bila kelahiran Yesus disangka 25 Desember, maka itu adalah kesalahan yang nyata
Namun, bukan itu masalahnya. Masalahnya
adalah bahwa umat Kristen telah menjadikan tanggal 25 bukan hanya
sebagai peringatan, tapi perayaan kelahiran ‘Tuhan Yesus’ bagi mereka.
Sehingga permasalahannya berubah menjadi permasalahan aqidah.
Karena itulah dalam Islam, kita pun
dilarang ikut-ikutan merayakan Natal, karena itu adalah perayaan aqidah.
Termasuk ikut memberikan ‘selamat natal’ atau sekadar ucapan ‘selamat’
saja. Karena sama saja kita mengakui bahwa Natal adalah hari lahir
‘Tuhan Yesus’ bagi mereka
Sesungguhnya kafirlah orang-orang
yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”,
padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika
mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti
orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih (TQS al-Maaidah [5] : 73)
Seringkali kita beralasan, “Tapi
kan nggak enak, dia bos saya / teman saya / dll, masak saya nggak
ngucapin, kalo dalam hati mengingkari kan gak papa, yang penting
niatnya! Toleransi dong!”
Perlu kita sampaikan, niat apapun yang
kita punya, apabila kita melakukan hal itu, maka sama saja hukumnya. Dan
toleransi bukanlah mengikuti perayaan aqidah umat lain. Oleh karena itu
harusnya kita lebih takut kepada Allah dibanding kepada manusia.
Karena itu janganlah kamu takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar
ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir (TQS al-Maaidah [5] : 44)
Lalu bagaimana toleransi Islam terhadap
agama lain? Toleransi kita hanya membiarkan mereka melakukan apa yang
mereka yakini tanpa kita ganggu. Itulah toleransi kita.
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (TQS al-Kaafiruun [109] : 6)
Toleransi bukannya ikut-ikutan dengan
kebablasan dan justru terjebak dalam kekufuran. Sebagai Muslim harusnya
kita menyampaikan bahwa perayaan semacam ini adalah salah. Dan kalaupun
toleransi, bukan berarti mengorbankan aqidah kita, mari kita ingat pesan
Rasulullah
”Sungguh kamu akan mengikuti (dan
meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang
serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk
liang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula”. Sebagian sahabat
bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau
menjawab: ”Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari dan Muslim)
Walhasil sekali lagi kita mengingatkan
bahwa haram hukumnya di dalam Islam mengikuti perayaan Natal, juga
termasuk mengucapkan ‘Selamat Natal/Selamat’ ataupun yang semisalnya.
Mudah-mudahan Allah menunjuki kita dan mereka
Felix SiauwAneh bin Ajaib
Aneh bin Ajaib
ﻣﻦ ﺃﻋﺠﺐ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﺍﻟﻠﻪ ﺛﻢ ﻻ ﺗﺤﺒﻪ
Di antara hal yang paling aneh adalah tatkala engkau mengenal
Allah kemudian engkau tak menghadirkan cintamu untuk-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺴﻤﻊ ﺩﺍﻋﻴﻪ ﺛﻢ ﺗﺘﺄﺧﺮ ﻋﻦ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ
Engkau mendengar penyeru kepada jalan-Nya, namun engkau
terlambat datang menjawabnya.
...
ﻭﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭ ﺍﻟﺮﺑﺢ ﻓﻲ ﻣﻌﺎﻣﻠﺘﻪ، ﺛﻢ ﺗﻌﺎﻣﻞ ﻏﻴﺮﻩ
Engkau tahu kadar keuntungan bermuamalah dengan-Nya,
namun engkau justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭ ﻏﻀﺒﻪ ﺛﻢ ﺗﺘﻌﺮﺽ ﻟﻪ
Engkau tahu betapa besar murka-Nya, tapi engkau malah
mengundang datang kemurkaan-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺬﻭﻕ ﺃﻟﻢ ﺍﻟﻮﺣﺸﺔ ﻓﻲ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ، ﺛﻢ ﻻ ﺗﻄﻠﺐ ﺍﻷﻧﺲ ﺑﻄﺎﻋﺘﻪ
Engkau rasakan kelam kegelapan maksiat kepada-Nya, namun
engkau tidak mencari kedamaian dengan taat kepada-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺬﻭﻕ ﻋﺼﺮﺓ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺨﻮﺽ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻨﻪ،
ﺛﻢ ﻻ ﺗﺸﺘﺎﻕ ﺇﻟﻰ ﺍﻧﺸﺮﺍﺡ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺑﺬﻛﺮﻩ ﻭﻣﻨﺎﺟﺎﺗﻪ
Engkau rasakan keringnya hati ketika tenggelam dalam
pembicaraan kpd selain Allah, tapi justru engkau tak rindu tuk
melapangkan dada berdzikir dan bermunajat kepada-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺬﻭﻕ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻋﻨﺪ ﺗﻌﻠﻖ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﻭﻻ ﺗﻬﺮﺏ ﻣﻨﻪ ﺇﻟﻰ ﻧﻌﻴﻢ
ﺍﻹﻗﺒﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﺇﻟﻴﻪ
Engkau rasa betapa tersiksanya hati tatkala bergantung kepada
selain-Nya, tapi justru engkau tak lari menjauh dari hal itu,
menuju nikmat kedekatan dan kembali kepada-Nya.
ﻭﺃﻋﺠﺐ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﻋﻠﻤﻚ ﺃﻧﻚ ﻻﺑﺪ ﻟﻚ ﻣﻨﻪ ﻭﺃﻧﻚ ﺃﺣﻮﺝ ﺷﻲﺀ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺃﻧﺖ
ﻋﻨﻪ ﻣﻌﺮﺽ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﺒﻌﺪﻙ ﻋﻨﻪ ﺭﺍﻏﺐ
Dan puncak dari segala keanehan ini, adalah ketika engkau
tahu engkau harus meminta dan sangat butuh kepada-Nya, tapi
di saat yang sama engkau berpaling dari-Nya dan malah
merindu kepada segala yang menjauhkanmu dari-Nya.
(Ibnu Qayyim -Rahimahullah-)
Viliani Rosi Pusparina
#perlu_direnungkan
ﻣﻦ ﺃﻋﺠﺐ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﺍﻟﻠﻪ ﺛﻢ ﻻ ﺗﺤﺒﻪ
Di antara hal yang paling aneh adalah tatkala engkau mengenal
Allah kemudian engkau tak menghadirkan cintamu untuk-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺴﻤﻊ ﺩﺍﻋﻴﻪ ﺛﻢ ﺗﺘﺄﺧﺮ ﻋﻦ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ
Engkau mendengar penyeru kepada jalan-Nya, namun engkau
terlambat datang menjawabnya.
...
ﻭﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭ ﺍﻟﺮﺑﺢ ﻓﻲ ﻣﻌﺎﻣﻠﺘﻪ، ﺛﻢ ﺗﻌﺎﻣﻞ ﻏﻴﺮﻩ
Engkau tahu kadar keuntungan bermuamalah dengan-Nya,
namun engkau justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭ ﻏﻀﺒﻪ ﺛﻢ ﺗﺘﻌﺮﺽ ﻟﻪ
Engkau tahu betapa besar murka-Nya, tapi engkau malah
mengundang datang kemurkaan-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺬﻭﻕ ﺃﻟﻢ ﺍﻟﻮﺣﺸﺔ ﻓﻲ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ، ﺛﻢ ﻻ ﺗﻄﻠﺐ ﺍﻷﻧﺲ ﺑﻄﺎﻋﺘﻪ
Engkau rasakan kelam kegelapan maksiat kepada-Nya, namun
engkau tidak mencari kedamaian dengan taat kepada-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺬﻭﻕ ﻋﺼﺮﺓ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺨﻮﺽ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻨﻪ،
ﺛﻢ ﻻ ﺗﺸﺘﺎﻕ ﺇﻟﻰ ﺍﻧﺸﺮﺍﺡ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺑﺬﻛﺮﻩ ﻭﻣﻨﺎﺟﺎﺗﻪ
Engkau rasakan keringnya hati ketika tenggelam dalam
pembicaraan kpd selain Allah, tapi justru engkau tak rindu tuk
melapangkan dada berdzikir dan bermunajat kepada-Nya.
ﻭﺃﻥ ﺗﺬﻭﻕ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻋﻨﺪ ﺗﻌﻠﻖ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﻭﻻ ﺗﻬﺮﺏ ﻣﻨﻪ ﺇﻟﻰ ﻧﻌﻴﻢ
ﺍﻹﻗﺒﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﺇﻟﻴﻪ
Engkau rasa betapa tersiksanya hati tatkala bergantung kepada
selain-Nya, tapi justru engkau tak lari menjauh dari hal itu,
menuju nikmat kedekatan dan kembali kepada-Nya.
ﻭﺃﻋﺠﺐ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﻋﻠﻤﻚ ﺃﻧﻚ ﻻﺑﺪ ﻟﻚ ﻣﻨﻪ ﻭﺃﻧﻚ ﺃﺣﻮﺝ ﺷﻲﺀ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺃﻧﺖ
ﻋﻨﻪ ﻣﻌﺮﺽ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﺒﻌﺪﻙ ﻋﻨﻪ ﺭﺍﻏﺐ
Dan puncak dari segala keanehan ini, adalah ketika engkau
tahu engkau harus meminta dan sangat butuh kepada-Nya, tapi
di saat yang sama engkau berpaling dari-Nya dan malah
merindu kepada segala yang menjauhkanmu dari-Nya.
(Ibnu Qayyim -Rahimahullah-)
Viliani Rosi Pusparina
#perlu_direnungkan
24 Desember 2013
Kutbah
الخطبة الأولى
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ
أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ
) الْحَمدُ لله كَثيْرًا واللهُ أكْبَرُ كَبِيْراً ، وَسُبْحَانَ
اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً ، لَهُ الْحَمْدُ جَلَّ وَعَلاَ عَلىَ نَعْمَائِهِ ،
وَلَهُ الشُّكْرُ عَلىَ سَرَّائِهِ ، وَلَهُ الصَّبْرُ عَلىَ مَا قَضَى مِنْ
بَلاَئِهِ ، وَأشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ،
وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، نَبِيُّهُ الْمُصْطَفَى ، وَرَسُوْلُهُ
الْمُجْتَبَى ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ
آلهِ وَأصَحَابِهِ أجْمَعِيْنَ ، أمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ
وإيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ ، وَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى . قَالَ
تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Allahu akbar 3X wa lillahil hamd
Kaum muslimin dan muslimat yang
dirahmati Allah SWT Marilah kita senantiasa tingkatkan iman dan taqwa pada
Allah swt, terutama setelah kita ditempa oleh Ramadhan selama sebulan penuh
secara intensif, semoga Allah senantiasa menjaga ketakwaan kita hingga ajal
menjemput kelak dan menerima seluruh amal baik kita, amin. Syukur
alhamdulillah, baru saja kegiatan ibadah selama Ramadhan telah tuntas kita
jalankan. Kita berharap semoga semua amal kita diterima Allah, dan semoga
semuanya menjadi media refresing yang mampu mengurangi kegundahan dan kepenatan
hidup selama ini dan bisa mengurai berbagai masalah hidup yang mendera kita.
Semua kita punya masalah hidup, baik
itu masalah diri kita sendiri, masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah
dengan masyarakat. Terlebih kita hidup sekarang ini di zaman modern yang banyak
tantangan dan godaan, di mana budaya korupsi, narkoba, seks bebas, penjajahan
budaya, lunturnya jati diri bangsa, bobroknya moral. Syeikh Ali Al-khawwas,
dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, menawarkan lima solusi dari persoalan
di atas:
دَوَاءُ
الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلاَءُ
الْبَطْنِ، وَقِيَامُ الَّليْلِ؛ وَالتَّضَرُّعِ عِنْدَ السَحْرِ، وَمُجَالَسَةُ
الصَّالِحِيْن.
Obat hati ada lima; membaca al-Quran
dan menghayatinya, mengosongkan perut, bangun malam, dzikir khusyu’ tengah
malam, berteman dengan orang-orang baik.
Dzikir, munajat dan baca al-Quran
pun telah selesai kita panjatkan kehadirat Allah. Itulah sumber mata air
ilahiyah yang mengalirkan keteduhan dan meneteskan embun kesejukan dalam sanubari
kita. Ini sesuai firman Allah:
الَّذِينَ
آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ . الرعد 28
Hati orang-orang mukmin itu menjadi
tenang dengan mengingat Allah, Ingatlah hanya dengan mengingat Allah jua lah
hati menjadi tenang.
Allah telah mentakdirkan kita,
manusia ini, sebagai makhluk sosial, yakni makhluk yang selalu membutuhkan
bantuan orang lain sekaligus dibutuhkan orang lain. Sehingga Islam mengatur hak
dan kewajiban dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Untuk itu, Islam
mengajak kita untuk pandai-pandai memilih teman dan tetangga yang baik-baik
agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang justru menjauhkan kita dari Allah.
Islam mengajak kita untuk berbagi kasih dengan sesama melalui zakat, infaq
maupun sedekah. Dengan demikian, hubungan kita dengan sesama yang selama ini
cenderung nafsi-nafsi, egois dan tak ramah, kembali terjalin hubungan yang
harmonis. Rasulullah bersabda:
السَّخِيُّ
قَرِيبٌ مِنَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ وبَعِيدٌ مِنَ
النَّارِ . رواه البيهقي
Orang yang dermawan itu dekat dengan
Allah, akrab dengan manusia, dekat dengan surga dan dijauhkan dari neraka.
Qiyamullaili yang telah kita
jalankan, shalat tarawih, witir, tahajjud dll, juga ikut berperan mempertajam
kepekaan spiritualitas kita, dan mampu menghadirkan kefitrahan kita sebagai
makhluk Allah. Tugas utama manusia adalah menjadi hamba dan abdi dari sang
pencipta. Sekecil apapun perbuatan kalau itu diperintahkan Allah atau
mendatangkan ridlo Allah, maka itulah prioritas hidup yang kita jalani. Misi
seorang muslim, tujuan hidupnya adalah ibadah dan cita-cita hidupnya ridlo
Allah.
Ramadhan juga telah mengistirahatkan
kerja organ biologis kita untuk sementara waktu dengan berpuasa mulai fajar
sampai maghrib, agar nafsu kita terbiasa dalam mengendalikan makanan, minuman,
hubungan biologis yang tidak halal. Keserakahan hidup biasanya diawali dari
keserakahan dalam mengkosumsi tiga hal di atas, kemudian akan menjelma menjadi
keserakahan jabatan, politik, eksploitasi lingkungan.
Allahu akbar 3X wa lillahil hamd
Kaum muslimin dan muslimat yang
dirahmati Allah SWT. Berkurangnya beban hidup dan tekanan batin, pasca
menjalani terapi puasa dan qiyamullail sebulan penuh, akan menjadi semakin
sempurna dengan kehadiran hari raya Idul Fitri seperti pada hari ini. Perayaan
Idul fitri/lebaran ini sungguh merupakan hiburan murah dan obat gratis untuk
menyembuhkan segala derita kita selama ini. Lebaran mampu menyatukan anggota
keluarga yang sebelumnya bercerai-berai. Lebaran dapat mengobati kerinduan
orang tua pada anak-anaknya. Lebaran memberi kesempatan bagi anak untuk
mencurahkan baktinya yang terbaik pada orangtua, baik saat beliau masih hidup
maupun setelah meninggal.
Lebaran mengingatkan kita semua pada
masa lalu yang indah bersama keluarga di kampung kelahiran yang sederhana dan
bersahaja, sekaligus mengingat kembali pengorbanan dan jasa-jasa keluarga yang
mengantarkan kita menjadi sukses seperti sekarang ini. Semua itu pasti
mendatangkan keberkahan umur dan kemudahan rizki, sebagaimana sabda Rasulullah:
مَنْ سَرَّهُ
أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ
رَحِمَه . رواه البخاري
Barang siapa yang ingin rizkinya
diluaskan dan umurnya dipanjangkan maka bersilaturrahimlah. Demi mengejar
kemuliaan lebaran tersebut, sebagian saudara kita rela berdesak-desakan di
dalam kendaraan yang bising dan pengap, sambil membawa tentengan tas yang
berat. Bagi mereka, kondisi semacam itu tidak jadi soal, bahkan resiko
perjalanan pun telah siap mereka terima. Harta bisa dikejar kapan saja, tapi
momen untuk memadu kasih bersama keluarga di hari lebaran adalah sebuah dambaan
yang tidak mungkin ditunda ataupun diganti.
Dengan kehadiran Ramadhan dan dikuti
oleh hari raya Idul Fitri, kekeringan jiwa sudah mulai tersegarkan oleh tetesan
embun ilahiyah, ruang-ruang hampa dalam tubuh kita, juga sudah mulai terisi,
yaitu ruang sosial, ruang historis, ruang spiritual, ruang psikis dan biologis.
Allahu akbar 3X wa lillahil hamd
Kaum muslimin dan muslimat yang
dirahmati Allah SWT Mari kita bertekad untuk menciptakan nuansa Ramadhan dalam
kehidupan sehari-hari kita, mari kita tradisikan qiyamullaili karena ia adalah
senjata pamungkas kita guna menghadapi kegalauan hidup. Melalui Ramadhan kita
telah dilatih untuk berperilaku takwa secara permanen dan istiqamah, bukan
dilatih untuk meninggalkannya setelah bulan berganti. Allah adalah tuhan kita
di siang dan malam, disini dan disana, dulu dan sekarang, di dalam dan di luar
Ramadhan.
Karenanya kita harus beristiqamah
dalam ibadah, dalam al-Quran Allah berjanji:
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ . فصلت :30
Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan tuhanku adalah Allah, kemudian mereka beristiqamah, maka para
malaikat akan turun pada mereka seraya mengatatakan, janganlah kalian taku dan
sedih, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian.
Itulah inti hidup yang harus kita
pertahankan, agar ketenangan dan kualitas hidup menjadi milik kita. Amin.
Terakhir, kita semua berharap semoga Allah, dengan agungnya ampunan-Nya,
menjadikan ruh dan jiwa kita kembali fitrah, kembali suci dari segala dosa
seperti saat kita terlahir di dunia ini, Ya Allah kalau engkau menghadirkan
kami di dunia dalam kondisi fitrah, kami mohon ketika suatu saat kami berpulang
juga pulangkan kami dalam keadaan fitrah.
Ya Allah beri kami kesempatan lagi
untuk berjumpa dengan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang, agar kami menikmati
indahnya Ramadhan.
أعوذُ باللهِ مِنَ الشيْطانِ الرَّجِيْمِ قَدْ أفْلَحَ
مَنْ تَزَكَّىْ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى ، جَعَلَنَا اللهُ وَإيَّاكُمْ
مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإيَّاكُمْ فِيْ عِبَادِهِ
الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
وَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الخطبة الثانية
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ
أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ
الْحَمدُ للهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَاركَاً فِيْهِ
كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أمَّا
بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى.
وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى
بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالى إنَّ اللهَ
وَمَلائِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يَا أيُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا
صَلُوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ، الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأصْحَابِهِ أجْمَعِيْنَ
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أبي بَكْرِ نِ
الصِّدِّيْقِ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ كُلِّ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إلىَ يَوْمِ
الدِّيْنِ وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ،
الَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
يَا قَاضِيَ الحْاَجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
-7.946326
112.595003
Rate this:
i
Langganan:
Postingan (Atom)
